DEMO DI MAKASSAR (LAGI)

Demonstrasi oleh mahasiswa di Makassar bukan hal baru lagi.  Jika ada kasus politik yang seru di Jakarta maka mahasiswa di Makassar dengan hebohnya berdemonstrasi sambil menutup jalan raya yang notabene merupakan sarana kepentingan umum. Tidak semua mahasiswa, hanya beberapa gelintir yang mengatasnamakan mahasiswa Makassar, dengan embel-embel organisasi tertentu yang melakukan hal itu.  Jalan raya yang sering jadi korban adalah jalan poros Perintis Kemerdekaan, jl. Sultan Alauddin, dan A.P.Pettarani.

Sadar gak sih ??? Demo yang katanya atas nama rakyat dan peduli pada situasi negara justru merepotkan rakyat itu sendiri.  Masyarakat pengguna jalan pada umumnya mengeluh, termasuk sesama mahasiswa (nah loh!!!). Saya justru heran kalau ada yang mendukung aksi mengganggu kepentingan umum seperti itu.  Aksi demo mahasiswa jadi terkesan menunjukkan arogansinya terhadap masyarakat. Belum lagi kendaraan plat merah yang sering dikejar-kejar para pendemo (hihi…).

Tidak jarang mahasiswa pendemo bentrok dengan aparat kepolisian, dari sekedar dorong-dorongan sampai lempar-lemparan batu.  Tentunya dengan dekorasi pembakaran ban bekas (gak ada yang mau pakai ban baru).  Kalau sudah begitu jadi susah membedakan demonya mahasiswa dengan demonya preman atau buruh pabrik, haha…

Bagaimana dengan kasus century ? Tentu saja aksi Makassar tidak kalah seru dengan di Jakarta.  Padahal di DPR sendiri sudah seru tuh.  Akhirnya…demo dengan tema kasus century pun melebar jadi aksi solidaritas HMI.  Kok bisa ??? Pemicunya karena ada penyerangan oleh oknum polisi ke markas HMI di jl. Bontolempangan.  Penyerangan itu memang tidak benar dan menyalahi hukum.  Tetapi apa tidak cukup dengan pengaduan perwakilan HMI kepada polisi agar pelakunya ditindak dengan tegas ? Atau jika memang harus menunjukkan solidaritas sesama HMI, apa tidak ada cara yang lebih elegan daripada orasi di tengah jalan sambil menutup jalan raya (udah tradisi nih)? Kenapa tidak demo langsung ke kantor polisi atau tebarkan spanduk tuntutan atau langsung menyatakan pendapat/pernyataan di media elektronik dan media massa. Aksi mengumpulkan tanda tangan atau cap jempol kaki (heheh…) juga boleh.  Yang penting tidak mengganggu kepentingan umum.

Sebenarnya tanpa mahasiswa berkoar-koar di jalanan pun, masyarakat sudah tahu perkembangan politik di Indonesia.  Ada waktunya untuk ramai-ramai turun ke jalan seperti penurunan Soeharto  tahun 1998.  Tapi untuk saat ini sebaiknya kita membenahi diri sendiri sebelum merecoki masalah politik. Pikirkan hal positif apa yang bisa kita lakukan, minimal untuk orang-orang di sekitar kita.  Jika ada konflik, jangan mudah terprovokasi, pikirkan dengan tenang tanpa emosional, cari kebenaran tanpa membenarkan diri secara mutlak.  DAMAI INDONESIA !!!

One thought on “DEMO DI MAKASSAR (LAGI)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s